Selasa, 22 Desember 2009

The Day

Tepat tahun ini, 27 tahun lalu saya di lahirkan. Tapi saya tak merasa sesuai umur saya, saya berharap di tahun yang akan datang saya bisa menjadi seorang yang lebih dewasa lagi dan yang terpenting dapat mensyukuri dengan sudah apa yang telah saya miliki, keluarga, teman, dan pekerjaan saya.

Dan untuk Allah SWT, Alhamdulillah Hirobbil Alamin .... yang telah memberikan kepercayaan umur.

Jumat, 18 Desember 2009

Curhat

Orang #01 : "Dul, sore nanti President akan mengadakan konfrensi pers"
Orang #02 : "Ah, itu bukan konfrensi pers, tapi curhat"

Sabtu, 05 Desember 2009

Solo dalam catatan


Solo buat saya terbilang kota yang nyaris sempurna, bahkan tak sedikit kawan - kawan saya mengidam - idamkan berkunjung kota ini. Saya pernah singgah di kota ini sekitar dua bulanan, sarana publiknya terbilang ramah. Tak pernah di jumpai kemacetan layaknya di Jakarta, Makanannya pun tergolong murah dan uwenak tenan. Namun bagi anda yang tidak berlidah "Jawa" banget akan merasa sedikit aneh, karena kebanyakan rasa masakannya terbilang manis.

Arsistek kotanya pun indah, sangat klasik dan penuh romantik. Maklum di Solo banyak terdapat bangunan peninggalan Belanda, sangat khas belanda, pilar pilar bangunan menjulang tinggi, pintu rumahnya juga unik, pokoknya sangat memanjakan mata bagi yang sangat mencintai dunia arsitektur tua seperti saya.

Buat anda yang berencana ke kota Solo, saran saya jangan sampai anda tidak mengunjungi pasar Laweyan, di tempat ini anda akan mendapatkan beberapa cindera mata yang terhitung murah, saratnya anda harus pintar - pintar menawar, maklum sang penjual akan menawarkan harga yang lumayan tinggi jika diketahui anda berasal dari luar daerah, saran saya gunakan bahasa jawa setempat atau ajak teman anda yang berasal dari kota setempat.

Yang tak kalah penting jika anda berkunjung ke kota Solo, dan wajib anda lakukkan adalan wisata kulinernya. Di Solo terdapat banyak angkringan atau warung lesehan yang menarik mata untuk kita cicipi, mulai dari nasi kucing, gudek, bebek goreng dan lain - lain.

Jika anda berencana untuk mampir ke Solo, bersenang - senanglah .....



Jumat, 04 Desember 2009

Indonesia


Saya merinding mendengar lagu Indonesia pusaka ketika lagu itu didengarkan dan dijadikan lagu penutup untuk sebuah program talk show sebuah station tv swasta. Dalam acara talk show politik tersebut membicarakan tentang para wakil rakyat yang sedang memperdebatkan pemilihan ketua panitia khusus tentang hak angket atas kisruhnya kasus bank Century.

Saya berpikir bagaimana jika para wakil rakyat tersebut ikut mendengarkan lagu tersebut, pastilah mereka akan berpikir ulang dan merenungkan kembali ulah mereka yang lebih sering diselipi triks dan intriks demi mengelabui publik Indonesia.

Selama ini ulah mereka lebih pantas kita sebut banyolan, mereka lebih sering memperkaya diri sendiri dari pada memperkaya rakyat. Padahal sebelum berangkat ke senayan mereka lebih sering bertopeng bak malaikat bagi kaum papa.

Kamis, 03 Desember 2009

EAT, PRAY, AND LOVE






KILAS FILM

Eat, Pray, And Love

JULIA Roberts, aktris peraih oscar, telah melakukkan syuting di Indonesia. Persisnya di Bali. Eat, Pray, Love berangkat dari kisah nyata Elizabeth Gilbert seorang jurnalis perempuan yang resah mencari makna kehidupan.

Memasuki usia tiga puluh tahun Gibert telah mendapatkan semua yang diinginkan oleh seorang wanita Amerika. Selain seorang suami dan sebuah rumah, Gilbert yang ambisius dan terpelajar juga punya karier yang cemerlang.

Namun, bukannya bahagia, dia justru menjadi kesedih, dan kebimbangan menghadapi kehidupan. Gilbert merasakan pedihnya bercerai, depresi, kegagalan cinta dan kehilangan pegangan dalam hidupnya.

Untuk memulihkan dirinya, Gilbert pun mengambil langkah yang cukup ekstrem. Dia meninggalkan pekerjaan dan orang-orang yang dikasihinya untuk melakukan petualangan seorang diri berkeliling dunia.

Bagi seorang perempuan yang berpenampilan menarik, perjalanan solo ini jelas petualangan seru. Makan, doa, dan cinta adalah catatan kejadian di bulan-bulan pencarian jati dirinya itu.

Dalam petualangannya itu, Gilbert menetapkan tujuan ke tiga tempat berbeda. Di setiap negara, ia meneliti aspek kehidupan dengan latar budayanya masing-masing.

Italia menjadi tempat tujuan pertamanya. Di negeri nan elok ini, Gilbert mempelajari seni menikmati hidup dan bahasa Italia. Tak lupa, ia juga mengumbar nafsu makannya dengan menyantap aneka masakan Italia yang enak-enak. Wajar saja jika kemudian bobot tubuhnya pun bertambah 12 kilogram.

Dari Italia, Gilbert bertolak menuju India. Di negeri ini dia mempelajari seni devosi atau penyerahan diri di sebuah Ashram atau padepokan Hindu. Ia menghabiskan waktu empat bulan untuk mengeksplorasi sisi spiritualnya.

Akhirnya, Bali menjadi tujuan terakhirnya. Di Pulau Dewata inilah wanita matang ini menemukan tujuan hidupnya, yakni kehidupan yang seimbang antara kegembiraan duniawi dan ketenangan batin.

Ia menjadi murid seorang dukun tua bernama Ketut Liyer yang juga seorang pelukis dan peramal lewat bacaan garis tangan. Gilbert juga bersahabat dengan Nyoman, penjual jamu tradisional Bali.

Dan yang terpenting, di Bali, Gilbert yang sudah apatis dan merasa tak akan pernah lagi bisa berhubungan romantis dengan lelaki manapun, akhirnya malah menemukan kembali cinta sejati pada diri Felipe, pria separuh baya asal Brasil yang jauh lebih tua darinya.

Tak cuma berakting, Julia Roberts juga menjadi produser eksekutif untuk film ini. Aktor terkenal Brad Pitt juga turut terlibat. Pemilik Plan B Entertaiment ini juga menjadi produser Eat, Pray, Love.